Halaman

Selasa, 21 Februari 2012

Angkie Yudistia


Angkie Yudistia (The Inspiration For Me, Maybe You Too ...)


Berawal di suatu pagi gue baru bangun dari tidur, mau siap-siap mandi tapi nyalain tivi dulu. Lihat tayangan Liputan 6 SCTV kok ada cewek cantik banget ya? Gue kira dia model terkenal, yang gue gak kenal,hahah. Ternyata bukan. Dia penderita tunarungu, Para Pemirsa!!
Angkie Yudistia mulai Tuna Rungu saat berusia 10 tahun dan mulai merasakan beragam tantangan diskriminasi berlapis-lapis dan warna warni kayak kue lapis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Meski Tuna Rungu, Angkie membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi kendala untuk bisa sukses. That’s right! Gue mesti bersyukur dengan apa yang gue punya. Terima kasih, Ya Allah SWT!

Kini, Angkie telah menjadi seorang perempuan mandiri melalui beragam pengalaman yang pernah diraihnya, antara lain berhasil menyelesaikan S2 Marketing Communication di The London School of Public Relations Jakarta, menjadi salah satu finalis Abang None 2008 Jakarta Barat, berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, menjadi Miss Congeniality dari Natur-e, hingga berkarir sebagai Corporate Public Relations. Gue paling seneng liat cewek mandiri, inspirasi banget! Paus akrobatis banget!

Angkie juga aktif membantu Yayasan Tuna Rungu Sehjira bersama dengan para perempuan penyandang disabilitas lainnya. Saat ini, Angkie beserta rekan tengah mendirikan Thisable Enterprise yang peduli terhadap permasalahan sosial dengan menggunakan kemampuan entrepreneurship, untuk melakukan perubahan sosial (social change); meliputi pemberdayaan teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia.

#pitabiru

Sejalan dengan peluncuran buku terbarunya bertajuk “Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas”, Angkie mempelopori sebuah gerakan sosial di jejaring sosial dengan #pitabiru

Apa itu #pitabiru?
#pitabiru merupakan sebuah gerakan sosial (social movement) yang fokus pada kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Keren banget namanya: Pita Biru.

Apa tujuan #pitabiru?
Angkie mau mengajak masyarakat untuk turut berempati dan membantu para penyandang disabilitas.

Selama perjalanan hidupnya hingga kini, wanita berusia 24 tahun itu tak bisa menghindar dari perlakuan diskriminatif di sekitarnya.
Telinga kanan Angkie mampu mendengar suara 70 desibel, sedangkan yang kiri 98 desibel. Sementara, rata-rata percakapan manusia berada di 40 desibel. Sebenarnya gue nggak ngerti masalah desibel-desibel ini, gue juga gak tahu berapa desibel pendengaran orang normal. Yang gue tahu suhu tubuh orang normal adalah 36,5 sampai 37,5 per-aksila.
Selepas sekolah menengah atas, dokter menyarankan Angkie untuk kuliah di bidang sains yang tidak menuntut komunikasi verbal. Ternyata, Angkie memiliki tekad lain.
Tak sia-sia memang. Beberapa kali ia dikirim mewakili kaum tuna rungu Indonesia untuk presentasi di dunia internasional. Kini, Angkie telah meraih master ilmu komunikasi. Mobilitas yang tinggi pun dijalaninya secara mandiri.
Angkie tak ingin keberhasilannya menembus keterbatasan yang dimilikinya hanya dinikmati sendiri. Ia pun mendirikan sebuah perusahaan konsultan komunikasi yang memperjuangkan isu kaum difabel. Keprihatinan Angkie muncul karena tak banyak kaum difabel diterima di dunia kerja formal.
Nah, gerakan pita biru adalah salah satu upaya Angkie mendapatkan perhatian bagi kaum difabel. Belum lama ini, dia meluncurkan buku berisi pengalamannya. Ia pun menjual merchandise yang hasil penjualannya diperuntukkan bagi alat bantu kaum difabel. Terutama, agar mereka tidak lagi terkungkung oleh keterbatasan.(ANS).
Gue terkesima dan langsung gue cari facebooknya setelah liat tayangannya. Hebat, friend request gue diconfirm. Yeah!
Menginspirasi gue untuk terus mensyukuri hidup. Gue pikir, gue butuh setiap hari setiap waktu setiap saat bertemu orang-orang yang memotivasi dan menginspirasi macam Mbak Angkie ini. Heh hah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar