Halaman

Selasa, 21 Februari 2012

Radit dan Tian


Radit dan Tian

Malam itu, mendung tak menunjukkan dirinya utuk turut melukis langit. Hanya bintang-bintang bertaburan dalam bingkai keremangan. Ponselku bergetar, satu pesan darimu.
‘Dit, temenin gue ya. Gue sekarang ke rumah lo.’
Aku mengiyakan. Sekedar ingin melepas rasa kesepian karena tak punya kekasih. Aku menerima ajakanmu dengan senang hati. Selain itu, aku juga suka punya teman sepertimu yang tak pernah absen bila ku butuh bantuan mengerjakan tugas kuliah. Kita sama-sama tidak mengerti, kita sama-sama tersesat di kampus itu, kita juga sama-sama enggan dengan semua mata kuliahnya. Namun, aku melihatmu begitu cerdas untuk hal-hal yang bahkan tak kamu sukai, kamu selalu menyelesaikan tugas-tugasmu—tugas-tugasku juga. Mungkin memang kamu dari lahir sudah pintar, berbeda denganku.
Banyak sekali hal yang membuatku nyaman berteman denganmu, meskipun kita baru kenal belum sampai sebulan. Dan aku bersyukur sekali kemarin satu kelompok OSPEK denganmu. Kamu tidak manja seperti cewek kebanyakan, kamu tidak pernah memaksa minta dijemput. Kamu selalu membantuku, kamu tidak alay, kamu apa adanya, dan yang terpenting kamu tetap mau berteman denganku yang dulunya anak badung ini. Apa kamu tidak takut aku akan membahayakanmu? Misalnya, membawamu ke pergaulan yang tidak benar?
Kupikir kamu sudah memepercayaiku, Kawan. Dan aku akan sangat merasa bersalah jika malah mempengaruhi yang tidak baik padamu. Semenjak mengenalmu, aku jadi ingin berubah menjadi anak baik dan tidak membuat orang lain kesal lagi.
Selang sepuluh menit sesudah pesanmu masuk di ponselku, aku mendengar deru motor di depan rumahku. Aku mengintip dari jendela kamarku, kamu dan motormu sudah parkir rapi seraya membunyikan klakson menyuruhku keluar. Segera aku menarik jaketku dari gantungan dan menemuimu dengan kaos oblong dan celena jeans pendekku. Kamu tersenyum menyambutku, dan kubalas pula. Senyum pertemanan.
“Jadi, mau kemana nih?” tanyaku sambil menggantikan posisimu menyetir motor.
“Kemana aja lah yang penting nggak ngabisin malming di rumah sampe membusuk. Hahahaha.” Gelakmu menertawakan kita.
“Hahahaha. Oke. Cabuutttt!!!” teriakku dan aku mengendarai motormu dengan kecepatan tinggi. Aku tahu di boncengan kamu agak takut-takut berpegangan pinggangku. Kamu memang berbeda dengan cewek-cewek yang kebanyakan agresif. Kamu hanya berpegangan pada jaketku.
Aku memutuskan untuk berhenti di depan sebuah cafe. “Di sini aja gimana?”
“No problemo.” Jawabmu ceria.
Setelah memarkir motor kita memasuki kafe yang cukup ramai dipenuhi berpasang-pasang anak manusia itu, mungkin orang lain juga melihat kita sebagai pasangan kekasih, tapi aku tak peduli. Aku malah senang orang lain tidak memandangku kasihan bila aku hanya memasuki cafe ini sendiri—tidak denganmu. Kupikir kamu juga berpikiran sama denganku, hahaha memang nasib orang jomblo.
Kita hanya memesan dua cangkir Hot Cappucino untuk kita berdua. Ketika kutanya apakah kamu juga suka ngopi, kamu geleng kepala dan hanya menjawab dengan ceria ingin beradaptasi denganku. Oh, mungkin lain kali aku juga harus mencoba bermain Barbie untuk beradaptasi denganmu. Kamu tergelak karena lelucon ‘Barbie’ku itu. Dua anak manusia terlihat terkikik-kikik di meja pojok Cafe, itu kita.
“Radit?” tanya seorang cewek berambut panjang yang mukanya biasa-biasa saja ketika lewat di samping tempat kita.
“Eh, Nera.” Sahutku tersenyum. Cewek itu teman SMA-ku.
Nera melihat ke arahmu, kamu tersenyum padanya. Batinku memujimu manis sekali dengan balutan jilbab yang menyamarkan kepribadianmu sebenarnya yang tidak feminim. Anggun, gumamku dalam hati.
“Ini cewek lo?” tanya Nera ingin tahu.
“Oh, kenalin ini Tian, temen gue.” Kataku memperkenalkanmu. Kamu menjabat tangan Nera.
“Hem, kirain cewek lo.” Ucap Nera ramah.
“Bukan.” Sahutku cepat.
Senyum itu memudar dari wajah manismu, dan kupikir malah Nera yang senyumnya semakin mantap. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Dan aku tetap cuek, tidak terlalu memikirkan misteri senyuman cewek.
“Dit, lo udah baca sms gue kan? Emm, gue pikir lo ke sini mau nemuin gue.” Kata Nera senang sambil ikut nimbrung di meja kita.
“Emang lo sms apa? Sebentar,” aku mengecek inbox di ponselku, benar ada pesan dari Nera yang isinya ngajakin ketemuan di Liko’s Cafe. Tempat yang kita datengin saat ini. Aku benar-benar tak ingat ada SMS dari Nera, yang kuingat hanya SMS darimu. Tau begitu, aku tak akan mengajakmu ke sini, ya biar tidak ada yang ganggu acara kita aja. “Oh iya, sori gue lupa.”
“Kok lo nggak malmingan sama cewek lo sih, Dit?” tanya Nera lagi.
Aku berpaling ke arahmu, kamu pura-pura tak melihatku. Aku menyesal kenapa tadi tak bilang bahwa kau cewekku saja pada Nera. Mungkin dengan begitu, Nera bakal pergi dan nggak ikut nimbrung serta memonopoli pembicaraan kayak begini. Bagaimanapun, janjiku kan nemenin kamu, bukan malah kebetulan ketemu Nera.
“Ehm, aku nggak punya cewek.” Jawabku gugup, ada perasaan tak nyaman.
“Wah, bagus dong!” sahut Nera bersemangat. Dia bahkan lupa belum memesan sesuatu.
“Bagus apanya?” heranku. Aku juga sempat melihat ekspresi kaget di wajahmu.
Nera melihatmu sebentar, kemudian kembali menatap dalam-dalam mataku. Aku berusaha tidak melihatnya, tapi kupikir tak sopan berbicara dengan orang tapi tak melihat matanya. “Sebenarnya tadi aku ngajak kamu ketemuan di sini aku pengen nyatain sesuatu padamu, Dit. Sebenarnya aku suka sama kamu dari dulu waktu kelas tiga, tapi waktu itu kan kamu punya cewek jadi aku pendem aja. Ehm, Radit, kamu mau nggak jadi cowokku?”
DUARR!!! Ya, beginilah rasanya ditembak. Aku jadi bingung sendiri mau menjawab apa.
“Ehm, Dit. Nggak usah dijawab sekarang. Besok, aku telepon ya. Daahh.” Nera pergi begitu saja.
Aku melihatmu, kamu hanya mengedikkan bahu dan menunjukkan ekspresi tak tertarik.

Esok harinya, aku tak melihatmu sama sekali di kampus. Mungkin ini karena aku yang nggak menghabiskan waktu di kampus lama-lama, karena aku tak pernah tiba di kelas lebih awal dari dimulainya kuliah, dan setelah kuliah selesai aku langsung cabut bersama motorku. Pantas saja, hahaha.
Tak satupun pesan darimu masuk di ponselku, kupikir kamu tak ingin lagi berteman denganku. Nera terus saja menanyakan jawaban atas pertanyaannya tempo hari. Aku tak sempat curhat padamu, karena kamu bahkan tak menghampiri atau menghubungiku, kukira kamu sibuk. Aku menerima cinta Nera karena takut menyakiti perasaannya, bukan karena aku mencintainya juga. Pun aku tak membenci Nera, kurasa aku bisa mencintainya seiring berjalannya waktu. Seperti kata pepatah Jawa, ‘Witing tresna jalaran saka kulina.’
Namun malam itu, kamu mengejutkanku dengan pernyataanmu. Kau mengatakan dengan datar kau menyukaiku. Saat kita terjebak hujan di halte depan kampus. Kamu tahu, bagiku sulit sekali mencerna ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa, kupikir kamu tulus ingin menjadi temanku. Aku ingin mengatakan aku lebih nyaman menjadi temanmu, tapi aku takut malah membuat semakin dingin suasana hatimu.
Kamu tidak tahu aku sudah dengan Nera.
Berhari-hari aku meyakinkanmu aku tak bisa denganmu lewat sikap dinginku. Aku tak bermaksud menyakitimu, aku hanya berharap ini akan lebih memudahkanmu memusnahkan perasaan sukamu padaku. Entah, berhasil atau tidak. Kita sudah jarang ngobrol. Kangen itu pasti ada, sebagai teman tentunya. Aku menunggu hujan mempertemukan kita lagi untuk meluruskan semuanya. Kita masih saling beku dalam diam. Ada sesuatu yang ingin kamu ungkapkan lebih banyak padaku. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Kita masih saling bisu dalam senyuman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar