Radit dan Tian
Malam itu, mendung tak
menunjukkan dirinya utuk turut melukis langit. Hanya bintang-bintang bertaburan
dalam bingkai keremangan. Ponselku bergetar, satu pesan darimu.
‘Dit, temenin gue ya. Gue
sekarang ke rumah lo.’
Aku mengiyakan. Sekedar ingin
melepas rasa kesepian karena tak punya kekasih. Aku menerima ajakanmu dengan
senang hati. Selain itu, aku juga suka punya teman sepertimu yang tak pernah
absen bila ku butuh bantuan mengerjakan tugas kuliah. Kita sama-sama tidak
mengerti, kita sama-sama tersesat di kampus itu, kita juga sama-sama enggan
dengan semua mata kuliahnya. Namun, aku melihatmu begitu cerdas untuk hal-hal
yang bahkan tak kamu sukai, kamu selalu menyelesaikan
tugas-tugasmu—tugas-tugasku juga. Mungkin memang kamu dari lahir sudah pintar,
berbeda denganku.
Banyak sekali hal yang membuatku
nyaman berteman denganmu, meskipun kita baru kenal belum sampai sebulan. Dan
aku bersyukur sekali kemarin satu kelompok OSPEK denganmu. Kamu tidak manja
seperti cewek kebanyakan, kamu tidak pernah memaksa minta dijemput. Kamu selalu
membantuku, kamu tidak alay, kamu apa adanya, dan yang terpenting kamu tetap
mau berteman denganku yang dulunya anak badung ini. Apa kamu tidak takut aku
akan membahayakanmu? Misalnya, membawamu ke pergaulan yang tidak benar?
Kupikir kamu sudah
memepercayaiku, Kawan. Dan aku akan sangat merasa bersalah jika malah
mempengaruhi yang tidak baik padamu. Semenjak mengenalmu, aku jadi ingin
berubah menjadi anak baik dan tidak membuat orang lain kesal lagi.
Selang sepuluh menit sesudah pesanmu
masuk di ponselku, aku mendengar deru motor di depan rumahku. Aku mengintip
dari jendela kamarku, kamu dan motormu sudah parkir rapi seraya membunyikan
klakson menyuruhku keluar. Segera aku menarik jaketku dari gantungan dan
menemuimu dengan kaos oblong dan celena jeans pendekku. Kamu tersenyum
menyambutku, dan kubalas pula. Senyum pertemanan.
“Jadi, mau kemana nih?” tanyaku
sambil menggantikan posisimu menyetir motor.
“Kemana aja lah yang penting
nggak ngabisin malming di rumah sampe membusuk. Hahahaha.” Gelakmu menertawakan
kita.
“Hahahaha. Oke. Cabuutttt!!!”
teriakku dan aku mengendarai motormu dengan kecepatan tinggi. Aku tahu di
boncengan kamu agak takut-takut berpegangan pinggangku. Kamu memang berbeda
dengan cewek-cewek yang kebanyakan agresif. Kamu hanya berpegangan pada
jaketku.
Aku memutuskan untuk berhenti di
depan sebuah cafe. “Di sini aja gimana?”
“No problemo.” Jawabmu ceria.
Setelah memarkir motor kita
memasuki kafe yang cukup ramai dipenuhi berpasang-pasang anak manusia itu,
mungkin orang lain juga melihat kita sebagai pasangan kekasih, tapi aku tak
peduli. Aku malah senang orang lain tidak memandangku kasihan bila aku hanya
memasuki cafe ini sendiri—tidak denganmu. Kupikir kamu juga berpikiran sama
denganku, hahaha memang nasib orang jomblo.
Kita hanya memesan dua cangkir
Hot Cappucino untuk kita berdua. Ketika kutanya apakah kamu juga suka ngopi,
kamu geleng kepala dan hanya menjawab dengan ceria ingin beradaptasi denganku.
Oh, mungkin lain kali aku juga harus mencoba bermain Barbie untuk beradaptasi
denganmu. Kamu tergelak karena lelucon ‘Barbie’ku itu. Dua anak manusia
terlihat terkikik-kikik di meja pojok Cafe, itu kita.
“Radit?” tanya seorang cewek
berambut panjang yang mukanya biasa-biasa saja ketika lewat di samping tempat
kita.
“Eh, Nera.” Sahutku tersenyum.
Cewek itu teman SMA-ku.
Nera melihat ke arahmu, kamu
tersenyum padanya. Batinku memujimu manis sekali dengan balutan jilbab yang menyamarkan
kepribadianmu sebenarnya yang tidak feminim. Anggun, gumamku dalam hati.
“Ini cewek lo?” tanya Nera ingin
tahu.
“Oh, kenalin ini Tian, temen
gue.” Kataku memperkenalkanmu. Kamu menjabat tangan Nera.
“Hem, kirain cewek lo.” Ucap Nera
ramah.
“Bukan.” Sahutku cepat.
Senyum itu memudar dari wajah
manismu, dan kupikir malah Nera yang senyumnya semakin mantap. Aku tidak
mengerti kenapa bisa begitu. Dan aku tetap cuek, tidak terlalu memikirkan
misteri senyuman cewek.
“Dit, lo udah baca sms gue kan?
Emm, gue pikir lo ke sini mau nemuin gue.” Kata Nera senang sambil ikut
nimbrung di meja kita.
“Emang lo sms apa? Sebentar,” aku
mengecek inbox di ponselku, benar ada pesan dari Nera yang isinya ngajakin
ketemuan di Liko’s Cafe. Tempat yang kita datengin saat ini. Aku benar-benar
tak ingat ada SMS dari Nera, yang kuingat hanya SMS darimu. Tau begitu, aku tak
akan mengajakmu ke sini, ya biar tidak ada yang ganggu acara kita aja. “Oh iya,
sori gue lupa.”
“Kok lo nggak malmingan sama
cewek lo sih, Dit?” tanya Nera lagi.
Aku berpaling ke arahmu, kamu
pura-pura tak melihatku. Aku menyesal kenapa tadi tak bilang bahwa kau cewekku
saja pada Nera. Mungkin dengan begitu, Nera bakal pergi dan nggak ikut nimbrung
serta memonopoli pembicaraan kayak begini. Bagaimanapun, janjiku kan nemenin
kamu, bukan malah kebetulan ketemu Nera.
“Ehm, aku nggak punya cewek.” Jawabku gugup, ada perasaan
tak nyaman.
“Wah, bagus dong!” sahut Nera bersemangat. Dia bahkan lupa
belum memesan sesuatu.
“Bagus apanya?” heranku. Aku juga sempat melihat ekspresi
kaget di wajahmu.
Nera melihatmu sebentar, kemudian kembali menatap
dalam-dalam mataku. Aku berusaha tidak melihatnya, tapi kupikir tak sopan
berbicara dengan orang tapi tak melihat matanya. “Sebenarnya tadi aku ngajak
kamu ketemuan di sini aku pengen nyatain sesuatu padamu, Dit. Sebenarnya aku
suka sama kamu dari dulu waktu kelas tiga, tapi waktu itu kan kamu punya cewek
jadi aku pendem aja. Ehm, Radit, kamu mau nggak jadi cowokku?”
DUARR!!! Ya, beginilah rasanya ditembak. Aku jadi bingung
sendiri mau menjawab apa.
“Ehm, Dit. Nggak usah dijawab sekarang. Besok, aku telepon
ya. Daahh.” Nera pergi begitu saja.
Aku melihatmu, kamu hanya mengedikkan bahu dan menunjukkan
ekspresi tak tertarik.
Esok harinya, aku tak melihatmu
sama sekali di kampus. Mungkin ini karena aku yang nggak menghabiskan waktu di
kampus lama-lama, karena aku tak pernah tiba di kelas lebih awal dari
dimulainya kuliah, dan setelah kuliah selesai aku langsung cabut bersama
motorku. Pantas saja, hahaha.
Tak satupun pesan darimu masuk di
ponselku, kupikir kamu tak ingin lagi berteman denganku. Nera terus saja
menanyakan jawaban atas pertanyaannya tempo hari. Aku tak sempat curhat padamu,
karena kamu bahkan tak menghampiri atau menghubungiku, kukira kamu sibuk. Aku
menerima cinta Nera karena takut menyakiti perasaannya, bukan karena aku
mencintainya juga. Pun aku tak membenci Nera, kurasa aku bisa mencintainya
seiring berjalannya waktu. Seperti kata pepatah Jawa, ‘Witing tresna jalaran
saka kulina.’
Namun malam itu, kamu
mengejutkanku dengan pernyataanmu. Kau mengatakan dengan datar kau menyukaiku.
Saat kita terjebak hujan di halte depan kampus. Kamu tahu, bagiku sulit sekali
mencerna ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa, kupikir kamu tulus ingin menjadi
temanku. Aku ingin mengatakan aku lebih nyaman menjadi temanmu, tapi aku takut
malah membuat semakin dingin suasana hatimu.
Kamu tidak tahu aku sudah dengan
Nera.
Berhari-hari aku meyakinkanmu aku
tak bisa denganmu lewat sikap dinginku. Aku tak bermaksud menyakitimu, aku
hanya berharap ini akan lebih memudahkanmu memusnahkan perasaan sukamu padaku.
Entah, berhasil atau tidak. Kita sudah jarang ngobrol. Kangen itu pasti ada,
sebagai teman tentunya. Aku menunggu hujan mempertemukan kita lagi untuk
meluruskan semuanya. Kita masih saling beku dalam diam. Ada sesuatu yang ingin
kamu ungkapkan lebih banyak padaku. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.
Kita masih saling bisu dalam senyuman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar