Halaman

Rabu, 22 Februari 2012

Tentang Saturday


Tentang Saturday
Gak tahu kenapa, tiba-tiba gue pengen aja nulis sesuatu tentang hari sabtu ini. Meski sebagai jomblo gue terus memaksa diri sok nggak tahu apa itu malam minggu yang notabene datengnya di hari sabtu, tepatnya sabtu malam.
  • Waktu gue TK: gue seneng banget sama yang namanya hari Sabtu. Soalnya pada hari ini, kelas gue waktunya olahraga dan olahraganya itu asyik banget. Olahraga menurut anak TK: main sepuasnya tanpa disuruh nyusun puzzle gambar Winnie the Pooh yang dulu gue gak bisa bedain mana perutnya dan mana jidatnya. Yang lebih enak lagi, kita dibayar semangkuk kolak kacang hijau untuk kegiatan main petak umpet sampai kejar-kejaran sama anjing tetangga kita yang menyenangkan ini. Oh, tiada yang lebih indah dibanding masa taman kanak-kanak.
  • Waktu gue SD: gue seneng banget sama hari sabtu soalnya waktu malemnya gue gak dipaksa ortu buat belajar. Dengan alasan, besok kan hari minggu. Uyee. Seru kan!
  • Waktu gue SMP: gue seneng banget sama hari sabtu, soalnya SMP gue itu kalo hari sabtu bebas lepas dari segala macam bentuk penjajahan guru via pelajaran. Gue masuk sekolah, pulang pagi, dan mbolang sama temen-temen. Asyik, euy! Pulang ke rumah sampe rumah udah sore aja, hahah.
  • Waktu gue SMA: yang bikin gue seneng dari hari sabtu adalah, besoknya minggu dan gue gak wajib belajar. Gue bisa tidur sepuasnya. Semenjak SMA, gue jadi hobi tidur sampai sekarang.
  •  Waktu gue kuliah: sumpah, hari sabtu itu nggak enak banget. Gue baru nyadar ‘punya cowok itu penting rupanya’ baru waktu kuliah. Penting buat semangat. Dan yang gue rasakan, seorang jomblo alasannya sangat kuat untuk bosan hidup, mamen! Waktu temen-temen SMA lo udah gak bareng-bareng sama lo. Dan percaya deh, temen kampus lo gak lebih dari rekan kerja. Yang  gue rasain, temen kampus itu kalo ngajak ngobrol tentang kuliah terusssss. Gue bosen banget! Dan satu lagi, temen kampus itu pasti lebih mentingin cewek/cowoknya atau istri/suaminya dibanding kitaaaaaaa, meski pengen jadi temannya. Susah ya. Dan gue jomblo, kesepian waktu sabtu malam itu sudah biasa sampai jenuh.
Yang selalu ada di piikiran gue: kok gue nggak punya punya cowok ya? Apa gue terlalu jelek dan lebih pantes masuk Panti Jelek dibandingkan terus bermimpi jadi ceweknya orang yang gue suka? Tapi, ada kok yang lebih nggak cantik dari gue cowoknya banyak. Apa gue terlalu pemilih, ya? Au ah, pusingggg, mamennnnnn!!!!!!! Anang, I love you the most!

5 Artis Cowok Indonesia Paling Keren (versi Dian)


5 Artis Cowok Indonesia Paling Keren (versi Dian)
1.      Raditya Dika 


Menurut gue, Raditya Dika itu ganteng banget. Yang bikin dia ganteng adalah tulisan-tulisan dia, lelucon dia yang smart, dan satu lagi yang gue lihat di bukunya dia itu termasuk rajin belajar. Sip banget Bang Radit ini, kenapa pake putus segala dengan Sherina? Padahal udah cocok banget. Sama gue aja deh, hahaha mimpi tingkat dewa. Tapi, sebenarnya gue juga pengen punya cowok kayak Raditya Dika.

2.      Fedi Nuril


Cowok satu ini cool abis, dia gitaris pula. Entahlah, gue seneng aja liat cowok pinter maen gitar, haahaa apalagi kalo cowok tersebut ganteng. Fedi Nuril itu cuek banget penampilannya, dia gak pake make up kayak boyband-boyband yang malah jadi mirip banci jalan raya itu. Gue suka yang apa adanya kayak gini. Keren, sumpah.

3.      Jordy Onsu


Yang bikin si Jordy ini ganteng adalah lucunya itu looohhh. Hahahah. Gue pertama kali lihat dia di film Ratu Malu dan Jenderal Kancil, film favorit gue sewaktu SD. Kalo sekarang ada lagi juga gue masih favoritin. Dulu dia berperan jadi musuhnya Guntur yang suaranya kayak babi bengek. Asli, lucu banget mamen! Gue juga paling seneng kalo Jordy Onsu duet sama Putri Titian di acara Celebrity on Vacation di Trans TV. Gokil. Pasti gak bosen ya, punya cowok kayak Jordy Onsu. Hmm, ngarep lagi.

4.      Wendy Armoko


Personil boyband Cagur yang satu ini bikin gue lupa sama kesedihan gue tiap lihat mukanya. Sama halnya dengan Jordy Onsu, yang bikin ganteng cowok satu ini adalah lucunya hahaha. Tapi emang tugas dia sebagai pelawak sih. Bedanya sama Jordy Onsu adalah Bang Wendy udah tua dan Jordy Onsu masih unyu unyu. Yang bikin gue kagum, istrinya Bang Wendy cantik banget loh. Sip banget deh!

5.      Anang Eko Bagus


Eh, dia artis era kapan ya? Dia personil boyband apa ya? Hahahahaha. Yang pasti dia artis di hati gue. Meski belum jadi cowok gue, gue suka banget sama cowok cool satu ini. Matanya sendu dan ganteng banget. Kalo ngobrol sama dia itu rasanya bahagia banget. Dengan kata lain, gue ini cinta sama dia tapi ditolak. Hahaha, ngenes banget bray! Dia jago main gitar. Pertama kali gue suka sama dia waktu lihat dia maen gitar dengan sangat keren waktu pensi OSPEK kemarin. Gue kayaknya jatuh cinta deh sama ini orang. Tapi sedihnya, gue dicuekin. Galau banget, mamen! Kapan ya dia jatuh cinta sama gue?

dan yah, demikian 5 artis paling keren di Indonesia versi gue.

Selasa, 21 Februari 2012

Radit dan Tian


Radit dan Tian

Malam itu, mendung tak menunjukkan dirinya utuk turut melukis langit. Hanya bintang-bintang bertaburan dalam bingkai keremangan. Ponselku bergetar, satu pesan darimu.
‘Dit, temenin gue ya. Gue sekarang ke rumah lo.’
Aku mengiyakan. Sekedar ingin melepas rasa kesepian karena tak punya kekasih. Aku menerima ajakanmu dengan senang hati. Selain itu, aku juga suka punya teman sepertimu yang tak pernah absen bila ku butuh bantuan mengerjakan tugas kuliah. Kita sama-sama tidak mengerti, kita sama-sama tersesat di kampus itu, kita juga sama-sama enggan dengan semua mata kuliahnya. Namun, aku melihatmu begitu cerdas untuk hal-hal yang bahkan tak kamu sukai, kamu selalu menyelesaikan tugas-tugasmu—tugas-tugasku juga. Mungkin memang kamu dari lahir sudah pintar, berbeda denganku.
Banyak sekali hal yang membuatku nyaman berteman denganmu, meskipun kita baru kenal belum sampai sebulan. Dan aku bersyukur sekali kemarin satu kelompok OSPEK denganmu. Kamu tidak manja seperti cewek kebanyakan, kamu tidak pernah memaksa minta dijemput. Kamu selalu membantuku, kamu tidak alay, kamu apa adanya, dan yang terpenting kamu tetap mau berteman denganku yang dulunya anak badung ini. Apa kamu tidak takut aku akan membahayakanmu? Misalnya, membawamu ke pergaulan yang tidak benar?
Kupikir kamu sudah memepercayaiku, Kawan. Dan aku akan sangat merasa bersalah jika malah mempengaruhi yang tidak baik padamu. Semenjak mengenalmu, aku jadi ingin berubah menjadi anak baik dan tidak membuat orang lain kesal lagi.
Selang sepuluh menit sesudah pesanmu masuk di ponselku, aku mendengar deru motor di depan rumahku. Aku mengintip dari jendela kamarku, kamu dan motormu sudah parkir rapi seraya membunyikan klakson menyuruhku keluar. Segera aku menarik jaketku dari gantungan dan menemuimu dengan kaos oblong dan celena jeans pendekku. Kamu tersenyum menyambutku, dan kubalas pula. Senyum pertemanan.
“Jadi, mau kemana nih?” tanyaku sambil menggantikan posisimu menyetir motor.
“Kemana aja lah yang penting nggak ngabisin malming di rumah sampe membusuk. Hahahaha.” Gelakmu menertawakan kita.
“Hahahaha. Oke. Cabuutttt!!!” teriakku dan aku mengendarai motormu dengan kecepatan tinggi. Aku tahu di boncengan kamu agak takut-takut berpegangan pinggangku. Kamu memang berbeda dengan cewek-cewek yang kebanyakan agresif. Kamu hanya berpegangan pada jaketku.
Aku memutuskan untuk berhenti di depan sebuah cafe. “Di sini aja gimana?”
“No problemo.” Jawabmu ceria.
Setelah memarkir motor kita memasuki kafe yang cukup ramai dipenuhi berpasang-pasang anak manusia itu, mungkin orang lain juga melihat kita sebagai pasangan kekasih, tapi aku tak peduli. Aku malah senang orang lain tidak memandangku kasihan bila aku hanya memasuki cafe ini sendiri—tidak denganmu. Kupikir kamu juga berpikiran sama denganku, hahaha memang nasib orang jomblo.
Kita hanya memesan dua cangkir Hot Cappucino untuk kita berdua. Ketika kutanya apakah kamu juga suka ngopi, kamu geleng kepala dan hanya menjawab dengan ceria ingin beradaptasi denganku. Oh, mungkin lain kali aku juga harus mencoba bermain Barbie untuk beradaptasi denganmu. Kamu tergelak karena lelucon ‘Barbie’ku itu. Dua anak manusia terlihat terkikik-kikik di meja pojok Cafe, itu kita.
“Radit?” tanya seorang cewek berambut panjang yang mukanya biasa-biasa saja ketika lewat di samping tempat kita.
“Eh, Nera.” Sahutku tersenyum. Cewek itu teman SMA-ku.
Nera melihat ke arahmu, kamu tersenyum padanya. Batinku memujimu manis sekali dengan balutan jilbab yang menyamarkan kepribadianmu sebenarnya yang tidak feminim. Anggun, gumamku dalam hati.
“Ini cewek lo?” tanya Nera ingin tahu.
“Oh, kenalin ini Tian, temen gue.” Kataku memperkenalkanmu. Kamu menjabat tangan Nera.
“Hem, kirain cewek lo.” Ucap Nera ramah.
“Bukan.” Sahutku cepat.
Senyum itu memudar dari wajah manismu, dan kupikir malah Nera yang senyumnya semakin mantap. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Dan aku tetap cuek, tidak terlalu memikirkan misteri senyuman cewek.
“Dit, lo udah baca sms gue kan? Emm, gue pikir lo ke sini mau nemuin gue.” Kata Nera senang sambil ikut nimbrung di meja kita.
“Emang lo sms apa? Sebentar,” aku mengecek inbox di ponselku, benar ada pesan dari Nera yang isinya ngajakin ketemuan di Liko’s Cafe. Tempat yang kita datengin saat ini. Aku benar-benar tak ingat ada SMS dari Nera, yang kuingat hanya SMS darimu. Tau begitu, aku tak akan mengajakmu ke sini, ya biar tidak ada yang ganggu acara kita aja. “Oh iya, sori gue lupa.”
“Kok lo nggak malmingan sama cewek lo sih, Dit?” tanya Nera lagi.
Aku berpaling ke arahmu, kamu pura-pura tak melihatku. Aku menyesal kenapa tadi tak bilang bahwa kau cewekku saja pada Nera. Mungkin dengan begitu, Nera bakal pergi dan nggak ikut nimbrung serta memonopoli pembicaraan kayak begini. Bagaimanapun, janjiku kan nemenin kamu, bukan malah kebetulan ketemu Nera.
“Ehm, aku nggak punya cewek.” Jawabku gugup, ada perasaan tak nyaman.
“Wah, bagus dong!” sahut Nera bersemangat. Dia bahkan lupa belum memesan sesuatu.
“Bagus apanya?” heranku. Aku juga sempat melihat ekspresi kaget di wajahmu.
Nera melihatmu sebentar, kemudian kembali menatap dalam-dalam mataku. Aku berusaha tidak melihatnya, tapi kupikir tak sopan berbicara dengan orang tapi tak melihat matanya. “Sebenarnya tadi aku ngajak kamu ketemuan di sini aku pengen nyatain sesuatu padamu, Dit. Sebenarnya aku suka sama kamu dari dulu waktu kelas tiga, tapi waktu itu kan kamu punya cewek jadi aku pendem aja. Ehm, Radit, kamu mau nggak jadi cowokku?”
DUARR!!! Ya, beginilah rasanya ditembak. Aku jadi bingung sendiri mau menjawab apa.
“Ehm, Dit. Nggak usah dijawab sekarang. Besok, aku telepon ya. Daahh.” Nera pergi begitu saja.
Aku melihatmu, kamu hanya mengedikkan bahu dan menunjukkan ekspresi tak tertarik.

Esok harinya, aku tak melihatmu sama sekali di kampus. Mungkin ini karena aku yang nggak menghabiskan waktu di kampus lama-lama, karena aku tak pernah tiba di kelas lebih awal dari dimulainya kuliah, dan setelah kuliah selesai aku langsung cabut bersama motorku. Pantas saja, hahaha.
Tak satupun pesan darimu masuk di ponselku, kupikir kamu tak ingin lagi berteman denganku. Nera terus saja menanyakan jawaban atas pertanyaannya tempo hari. Aku tak sempat curhat padamu, karena kamu bahkan tak menghampiri atau menghubungiku, kukira kamu sibuk. Aku menerima cinta Nera karena takut menyakiti perasaannya, bukan karena aku mencintainya juga. Pun aku tak membenci Nera, kurasa aku bisa mencintainya seiring berjalannya waktu. Seperti kata pepatah Jawa, ‘Witing tresna jalaran saka kulina.’
Namun malam itu, kamu mengejutkanku dengan pernyataanmu. Kau mengatakan dengan datar kau menyukaiku. Saat kita terjebak hujan di halte depan kampus. Kamu tahu, bagiku sulit sekali mencerna ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa, kupikir kamu tulus ingin menjadi temanku. Aku ingin mengatakan aku lebih nyaman menjadi temanmu, tapi aku takut malah membuat semakin dingin suasana hatimu.
Kamu tidak tahu aku sudah dengan Nera.
Berhari-hari aku meyakinkanmu aku tak bisa denganmu lewat sikap dinginku. Aku tak bermaksud menyakitimu, aku hanya berharap ini akan lebih memudahkanmu memusnahkan perasaan sukamu padaku. Entah, berhasil atau tidak. Kita sudah jarang ngobrol. Kangen itu pasti ada, sebagai teman tentunya. Aku menunggu hujan mempertemukan kita lagi untuk meluruskan semuanya. Kita masih saling beku dalam diam. Ada sesuatu yang ingin kamu ungkapkan lebih banyak padaku. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Kita masih saling bisu dalam senyuman.

Angkie Yudistia


Angkie Yudistia (The Inspiration For Me, Maybe You Too ...)


Berawal di suatu pagi gue baru bangun dari tidur, mau siap-siap mandi tapi nyalain tivi dulu. Lihat tayangan Liputan 6 SCTV kok ada cewek cantik banget ya? Gue kira dia model terkenal, yang gue gak kenal,hahah. Ternyata bukan. Dia penderita tunarungu, Para Pemirsa!!
Angkie Yudistia mulai Tuna Rungu saat berusia 10 tahun dan mulai merasakan beragam tantangan diskriminasi berlapis-lapis dan warna warni kayak kue lapis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Meski Tuna Rungu, Angkie membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi kendala untuk bisa sukses. That’s right! Gue mesti bersyukur dengan apa yang gue punya. Terima kasih, Ya Allah SWT!

Kini, Angkie telah menjadi seorang perempuan mandiri melalui beragam pengalaman yang pernah diraihnya, antara lain berhasil menyelesaikan S2 Marketing Communication di The London School of Public Relations Jakarta, menjadi salah satu finalis Abang None 2008 Jakarta Barat, berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, menjadi Miss Congeniality dari Natur-e, hingga berkarir sebagai Corporate Public Relations. Gue paling seneng liat cewek mandiri, inspirasi banget! Paus akrobatis banget!

Angkie juga aktif membantu Yayasan Tuna Rungu Sehjira bersama dengan para perempuan penyandang disabilitas lainnya. Saat ini, Angkie beserta rekan tengah mendirikan Thisable Enterprise yang peduli terhadap permasalahan sosial dengan menggunakan kemampuan entrepreneurship, untuk melakukan perubahan sosial (social change); meliputi pemberdayaan teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia.

#pitabiru

Sejalan dengan peluncuran buku terbarunya bertajuk “Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas”, Angkie mempelopori sebuah gerakan sosial di jejaring sosial dengan #pitabiru

Apa itu #pitabiru?
#pitabiru merupakan sebuah gerakan sosial (social movement) yang fokus pada kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Keren banget namanya: Pita Biru.

Apa tujuan #pitabiru?
Angkie mau mengajak masyarakat untuk turut berempati dan membantu para penyandang disabilitas.

Selama perjalanan hidupnya hingga kini, wanita berusia 24 tahun itu tak bisa menghindar dari perlakuan diskriminatif di sekitarnya.
Telinga kanan Angkie mampu mendengar suara 70 desibel, sedangkan yang kiri 98 desibel. Sementara, rata-rata percakapan manusia berada di 40 desibel. Sebenarnya gue nggak ngerti masalah desibel-desibel ini, gue juga gak tahu berapa desibel pendengaran orang normal. Yang gue tahu suhu tubuh orang normal adalah 36,5 sampai 37,5 per-aksila.
Selepas sekolah menengah atas, dokter menyarankan Angkie untuk kuliah di bidang sains yang tidak menuntut komunikasi verbal. Ternyata, Angkie memiliki tekad lain.
Tak sia-sia memang. Beberapa kali ia dikirim mewakili kaum tuna rungu Indonesia untuk presentasi di dunia internasional. Kini, Angkie telah meraih master ilmu komunikasi. Mobilitas yang tinggi pun dijalaninya secara mandiri.
Angkie tak ingin keberhasilannya menembus keterbatasan yang dimilikinya hanya dinikmati sendiri. Ia pun mendirikan sebuah perusahaan konsultan komunikasi yang memperjuangkan isu kaum difabel. Keprihatinan Angkie muncul karena tak banyak kaum difabel diterima di dunia kerja formal.
Nah, gerakan pita biru adalah salah satu upaya Angkie mendapatkan perhatian bagi kaum difabel. Belum lama ini, dia meluncurkan buku berisi pengalamannya. Ia pun menjual merchandise yang hasil penjualannya diperuntukkan bagi alat bantu kaum difabel. Terutama, agar mereka tidak lagi terkungkung oleh keterbatasan.(ANS).
Gue terkesima dan langsung gue cari facebooknya setelah liat tayangannya. Hebat, friend request gue diconfirm. Yeah!
Menginspirasi gue untuk terus mensyukuri hidup. Gue pikir, gue butuh setiap hari setiap waktu setiap saat bertemu orang-orang yang memotivasi dan menginspirasi macam Mbak Angkie ini. Heh hah!