Halaman

Selasa, 01 Mei 2012

bbbeeerrrrrrr

satu-satunya cita-cita jangka pendek gue saat ini adalah MOVE ON!
dan itu susah banget, jenderal!
karena belum bisa move on sepenuhnya, gue cuma bisa mengupload gambar-gambar buat semangat move on aja. hahaha, kadar keberhasilan move on gue cuma sampe situ gitu: melihat, menikmati, dan mengupload gambar-gambarnya. yang penting move on, oke!


Minggu, 25 Maret 2012

Konsep Dasar Nyeri

Pengertian nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan
Fisiologi nyeri
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
a. Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan
b. Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi
Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.
Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.
Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory)
Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007)
Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.
Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. tehnik distraksi, konseling dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter, 2005)
Respon Psikologis
respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien.
Arti nyeri bagi setiap individu berbeda-beda antara lain :
1) Bahaya atau merusak
2) Komplikasi seperti infeksi
3) Penyakit yang berulang
4) Penyakit baru
5) Penyakit yang fatal
6) Peningkatan ketidakmampuan
7) Kehilangan mobilitas
8) Menjadi tua
9) Sembuh
10) Perlu untuk penyembuhan
11) Hukuman untuk berdosa
12) Tantangan
13) Penghargaan terhadap penderitaan orang lain
14) Sesuatu yang harus ditoleransi
15) Bebas dari tanggung jawab yang tidak dikehendaki
Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi tingkat pengetahuan, persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial budaya
Respon fisiologis terhadap nyeri
1) Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)
a) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
b) Peningkatan heart rate
c) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP
d) Peningkatan nilai gula darah
e) Diaphoresis
f) Peningkatan kekuatan otot
g) Dilatasi pupil
h) Penurunan motilitas GI
2) Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)
a) Muka pucat
b) Otot mengeras
c) Penurunan HR dan BP
d) Nafas cepat dan irreguler
e) Nausea dan vomitus
f) Kelelahan dan keletihan
Respon tingkah laku terhadap nyeri
1) Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
2) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
3) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
4) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
5) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri)
Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.
Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.
2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.
Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.
Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.
3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.
Faktor yang mempengaruhi respon nyeri
1) Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2) Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
3) Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4) Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
5) Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6) Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
7) Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8) Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
9) Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan
Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritifskala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adlah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

sumber
Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87.
Shone, N. (1995). Berhasil Mengatasi Nyeri. Jakarta : Arcan. Hlm : 76-80
Ramali. A. (2000). Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah. Jakarta : Djambatan.
Syaifuddin. (1997). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat.edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136.
Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63
Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC. Hlm 1502-1533.

Minggu, 18 Maret 2012

Charmingggggggg

gue punya kakak tingkat yang charming banget nih: nama lengkapnya Suprayogi Pranatagama. ah, Mas yang satu ini chraming bangetttt... tapi gue gak kenal sama dia, apalagi dia hahahahahaaaa..... gue cuma sekedar tahu aja dan hobi liatin dia di kampus #ups.

LABIL

gue labil banget, baru beberapa detik yang lalu gue meratapi kengenesan nasib cinta gue, sekarang gue habis baca status salah satu temen kampus gue jadi pengen move on lagi. secepat itu? ya, mungkin secepat itu gue berubah galau lagi nanti kalo liat orang pacaran.
however, gue mau fokus kuliah dulu. gak punya cowok? fokus bikin askep aja, hahaha. bingung malam minggu ngapain? tidur dooong. ya, resikonya: selalu sendiri. temen pun akan sibuk dengan pacarnya, percaya deh.
gue harus fokus belajar. lagipula, umur gue masih tujuhbelas dan gak wajib terlalu pusing mikirin jodoh.  tapi ya,, kadang liat sepupu-sepupu gue yang menikah dan nemuin pem\ndamping yang pas, gue jadi mupeng abis.
but, forget it! nah loh! galau lagiii...
ooohhhh, rajungannnn!!!!!
gue pengen ketemu pangeran guee doooongggggg

Gue Pengen Punya ......

gue pengen punya cowok. mungkin bagi orang-orang dapetin cewek/cowok itu mudah, tapi bagi gue rasanya sulitt banget. kenapa? gue juga gak jelek jelek amat, gue kan manis #PLAK. tapi kenapa gue ngenes banget begini?
oh yeah, mungkin terlalu putus asanya gue, sampai menulis hal bodoh di blog begini. tapi gue,,, guehhh butuhhh seseorang hikss...yang bisa..huhu gue buat tempat berbagi hiks.. baik sroootttttt suka maupun srroooottttt duka...huuuwwaaaaa huhuhu hiks... srooottttt!!!!
dan satu hal lagi yang bikin gue sedih, cinta gue ini.... cinta gue ini mau digimanain? eh, emangnya gue jatuh cinta ya?
gak tau gue, tapi rasanya gue pengeeeeennnnnn banget jadi ceweknya dia si itu tu... artis indonesia paling keren nomer lima..... hugahugaaa.... gue pengen dia jadi cowok gue...ugghhhh
kapan yaaaa????
masalahnya, si-artis-Indonesia-paling-keren-nomer-lima itu cuek banget. gue pernah secara bodoh dan tidak sengaja bilang suka lewat sms sama dia. dan tanggapan dia ambigu abisss... dia bilang nyuruh gue nyantai aja. well, santai saja. gue ulangi sekali lagi: santai saja. SANTAI SAJA. setelah itu gue langsung puter lagunya Saint Loco yang judulnya Santai Saja. Santai sajaaa, kawan.... kau pasti bisa.... tenang saja. kawan.... hadapilah semua. GUE SEMAKIN SESAT.
GILA! INI GILA!
sampai saat ini, sialnya dia gak bahas apapun tentang perasaan gue. gue juga gak berani tanya. dia ngajak ngobrol cuma tentang kuliah aja. gue sedih. sendiri. berpotensi gak sengaja minum baygon nih. oohhh, rajungan!!!
gue galau.............

Rabu, 22 Februari 2012

Tentang Saturday


Tentang Saturday
Gak tahu kenapa, tiba-tiba gue pengen aja nulis sesuatu tentang hari sabtu ini. Meski sebagai jomblo gue terus memaksa diri sok nggak tahu apa itu malam minggu yang notabene datengnya di hari sabtu, tepatnya sabtu malam.
  • Waktu gue TK: gue seneng banget sama yang namanya hari Sabtu. Soalnya pada hari ini, kelas gue waktunya olahraga dan olahraganya itu asyik banget. Olahraga menurut anak TK: main sepuasnya tanpa disuruh nyusun puzzle gambar Winnie the Pooh yang dulu gue gak bisa bedain mana perutnya dan mana jidatnya. Yang lebih enak lagi, kita dibayar semangkuk kolak kacang hijau untuk kegiatan main petak umpet sampai kejar-kejaran sama anjing tetangga kita yang menyenangkan ini. Oh, tiada yang lebih indah dibanding masa taman kanak-kanak.
  • Waktu gue SD: gue seneng banget sama hari sabtu soalnya waktu malemnya gue gak dipaksa ortu buat belajar. Dengan alasan, besok kan hari minggu. Uyee. Seru kan!
  • Waktu gue SMP: gue seneng banget sama hari sabtu, soalnya SMP gue itu kalo hari sabtu bebas lepas dari segala macam bentuk penjajahan guru via pelajaran. Gue masuk sekolah, pulang pagi, dan mbolang sama temen-temen. Asyik, euy! Pulang ke rumah sampe rumah udah sore aja, hahah.
  • Waktu gue SMA: yang bikin gue seneng dari hari sabtu adalah, besoknya minggu dan gue gak wajib belajar. Gue bisa tidur sepuasnya. Semenjak SMA, gue jadi hobi tidur sampai sekarang.
  •  Waktu gue kuliah: sumpah, hari sabtu itu nggak enak banget. Gue baru nyadar ‘punya cowok itu penting rupanya’ baru waktu kuliah. Penting buat semangat. Dan yang gue rasakan, seorang jomblo alasannya sangat kuat untuk bosan hidup, mamen! Waktu temen-temen SMA lo udah gak bareng-bareng sama lo. Dan percaya deh, temen kampus lo gak lebih dari rekan kerja. Yang  gue rasain, temen kampus itu kalo ngajak ngobrol tentang kuliah terusssss. Gue bosen banget! Dan satu lagi, temen kampus itu pasti lebih mentingin cewek/cowoknya atau istri/suaminya dibanding kitaaaaaaa, meski pengen jadi temannya. Susah ya. Dan gue jomblo, kesepian waktu sabtu malam itu sudah biasa sampai jenuh.
Yang selalu ada di piikiran gue: kok gue nggak punya punya cowok ya? Apa gue terlalu jelek dan lebih pantes masuk Panti Jelek dibandingkan terus bermimpi jadi ceweknya orang yang gue suka? Tapi, ada kok yang lebih nggak cantik dari gue cowoknya banyak. Apa gue terlalu pemilih, ya? Au ah, pusingggg, mamennnnnn!!!!!!! Anang, I love you the most!

5 Artis Cowok Indonesia Paling Keren (versi Dian)


5 Artis Cowok Indonesia Paling Keren (versi Dian)
1.      Raditya Dika 


Menurut gue, Raditya Dika itu ganteng banget. Yang bikin dia ganteng adalah tulisan-tulisan dia, lelucon dia yang smart, dan satu lagi yang gue lihat di bukunya dia itu termasuk rajin belajar. Sip banget Bang Radit ini, kenapa pake putus segala dengan Sherina? Padahal udah cocok banget. Sama gue aja deh, hahaha mimpi tingkat dewa. Tapi, sebenarnya gue juga pengen punya cowok kayak Raditya Dika.

2.      Fedi Nuril


Cowok satu ini cool abis, dia gitaris pula. Entahlah, gue seneng aja liat cowok pinter maen gitar, haahaa apalagi kalo cowok tersebut ganteng. Fedi Nuril itu cuek banget penampilannya, dia gak pake make up kayak boyband-boyband yang malah jadi mirip banci jalan raya itu. Gue suka yang apa adanya kayak gini. Keren, sumpah.

3.      Jordy Onsu


Yang bikin si Jordy ini ganteng adalah lucunya itu looohhh. Hahahah. Gue pertama kali lihat dia di film Ratu Malu dan Jenderal Kancil, film favorit gue sewaktu SD. Kalo sekarang ada lagi juga gue masih favoritin. Dulu dia berperan jadi musuhnya Guntur yang suaranya kayak babi bengek. Asli, lucu banget mamen! Gue juga paling seneng kalo Jordy Onsu duet sama Putri Titian di acara Celebrity on Vacation di Trans TV. Gokil. Pasti gak bosen ya, punya cowok kayak Jordy Onsu. Hmm, ngarep lagi.

4.      Wendy Armoko


Personil boyband Cagur yang satu ini bikin gue lupa sama kesedihan gue tiap lihat mukanya. Sama halnya dengan Jordy Onsu, yang bikin ganteng cowok satu ini adalah lucunya hahaha. Tapi emang tugas dia sebagai pelawak sih. Bedanya sama Jordy Onsu adalah Bang Wendy udah tua dan Jordy Onsu masih unyu unyu. Yang bikin gue kagum, istrinya Bang Wendy cantik banget loh. Sip banget deh!

5.      Anang Eko Bagus


Eh, dia artis era kapan ya? Dia personil boyband apa ya? Hahahahaha. Yang pasti dia artis di hati gue. Meski belum jadi cowok gue, gue suka banget sama cowok cool satu ini. Matanya sendu dan ganteng banget. Kalo ngobrol sama dia itu rasanya bahagia banget. Dengan kata lain, gue ini cinta sama dia tapi ditolak. Hahaha, ngenes banget bray! Dia jago main gitar. Pertama kali gue suka sama dia waktu lihat dia maen gitar dengan sangat keren waktu pensi OSPEK kemarin. Gue kayaknya jatuh cinta deh sama ini orang. Tapi sedihnya, gue dicuekin. Galau banget, mamen! Kapan ya dia jatuh cinta sama gue?

dan yah, demikian 5 artis paling keren di Indonesia versi gue.

Selasa, 21 Februari 2012

Radit dan Tian


Radit dan Tian

Malam itu, mendung tak menunjukkan dirinya utuk turut melukis langit. Hanya bintang-bintang bertaburan dalam bingkai keremangan. Ponselku bergetar, satu pesan darimu.
‘Dit, temenin gue ya. Gue sekarang ke rumah lo.’
Aku mengiyakan. Sekedar ingin melepas rasa kesepian karena tak punya kekasih. Aku menerima ajakanmu dengan senang hati. Selain itu, aku juga suka punya teman sepertimu yang tak pernah absen bila ku butuh bantuan mengerjakan tugas kuliah. Kita sama-sama tidak mengerti, kita sama-sama tersesat di kampus itu, kita juga sama-sama enggan dengan semua mata kuliahnya. Namun, aku melihatmu begitu cerdas untuk hal-hal yang bahkan tak kamu sukai, kamu selalu menyelesaikan tugas-tugasmu—tugas-tugasku juga. Mungkin memang kamu dari lahir sudah pintar, berbeda denganku.
Banyak sekali hal yang membuatku nyaman berteman denganmu, meskipun kita baru kenal belum sampai sebulan. Dan aku bersyukur sekali kemarin satu kelompok OSPEK denganmu. Kamu tidak manja seperti cewek kebanyakan, kamu tidak pernah memaksa minta dijemput. Kamu selalu membantuku, kamu tidak alay, kamu apa adanya, dan yang terpenting kamu tetap mau berteman denganku yang dulunya anak badung ini. Apa kamu tidak takut aku akan membahayakanmu? Misalnya, membawamu ke pergaulan yang tidak benar?
Kupikir kamu sudah memepercayaiku, Kawan. Dan aku akan sangat merasa bersalah jika malah mempengaruhi yang tidak baik padamu. Semenjak mengenalmu, aku jadi ingin berubah menjadi anak baik dan tidak membuat orang lain kesal lagi.
Selang sepuluh menit sesudah pesanmu masuk di ponselku, aku mendengar deru motor di depan rumahku. Aku mengintip dari jendela kamarku, kamu dan motormu sudah parkir rapi seraya membunyikan klakson menyuruhku keluar. Segera aku menarik jaketku dari gantungan dan menemuimu dengan kaos oblong dan celena jeans pendekku. Kamu tersenyum menyambutku, dan kubalas pula. Senyum pertemanan.
“Jadi, mau kemana nih?” tanyaku sambil menggantikan posisimu menyetir motor.
“Kemana aja lah yang penting nggak ngabisin malming di rumah sampe membusuk. Hahahaha.” Gelakmu menertawakan kita.
“Hahahaha. Oke. Cabuutttt!!!” teriakku dan aku mengendarai motormu dengan kecepatan tinggi. Aku tahu di boncengan kamu agak takut-takut berpegangan pinggangku. Kamu memang berbeda dengan cewek-cewek yang kebanyakan agresif. Kamu hanya berpegangan pada jaketku.
Aku memutuskan untuk berhenti di depan sebuah cafe. “Di sini aja gimana?”
“No problemo.” Jawabmu ceria.
Setelah memarkir motor kita memasuki kafe yang cukup ramai dipenuhi berpasang-pasang anak manusia itu, mungkin orang lain juga melihat kita sebagai pasangan kekasih, tapi aku tak peduli. Aku malah senang orang lain tidak memandangku kasihan bila aku hanya memasuki cafe ini sendiri—tidak denganmu. Kupikir kamu juga berpikiran sama denganku, hahaha memang nasib orang jomblo.
Kita hanya memesan dua cangkir Hot Cappucino untuk kita berdua. Ketika kutanya apakah kamu juga suka ngopi, kamu geleng kepala dan hanya menjawab dengan ceria ingin beradaptasi denganku. Oh, mungkin lain kali aku juga harus mencoba bermain Barbie untuk beradaptasi denganmu. Kamu tergelak karena lelucon ‘Barbie’ku itu. Dua anak manusia terlihat terkikik-kikik di meja pojok Cafe, itu kita.
“Radit?” tanya seorang cewek berambut panjang yang mukanya biasa-biasa saja ketika lewat di samping tempat kita.
“Eh, Nera.” Sahutku tersenyum. Cewek itu teman SMA-ku.
Nera melihat ke arahmu, kamu tersenyum padanya. Batinku memujimu manis sekali dengan balutan jilbab yang menyamarkan kepribadianmu sebenarnya yang tidak feminim. Anggun, gumamku dalam hati.
“Ini cewek lo?” tanya Nera ingin tahu.
“Oh, kenalin ini Tian, temen gue.” Kataku memperkenalkanmu. Kamu menjabat tangan Nera.
“Hem, kirain cewek lo.” Ucap Nera ramah.
“Bukan.” Sahutku cepat.
Senyum itu memudar dari wajah manismu, dan kupikir malah Nera yang senyumnya semakin mantap. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Dan aku tetap cuek, tidak terlalu memikirkan misteri senyuman cewek.
“Dit, lo udah baca sms gue kan? Emm, gue pikir lo ke sini mau nemuin gue.” Kata Nera senang sambil ikut nimbrung di meja kita.
“Emang lo sms apa? Sebentar,” aku mengecek inbox di ponselku, benar ada pesan dari Nera yang isinya ngajakin ketemuan di Liko’s Cafe. Tempat yang kita datengin saat ini. Aku benar-benar tak ingat ada SMS dari Nera, yang kuingat hanya SMS darimu. Tau begitu, aku tak akan mengajakmu ke sini, ya biar tidak ada yang ganggu acara kita aja. “Oh iya, sori gue lupa.”
“Kok lo nggak malmingan sama cewek lo sih, Dit?” tanya Nera lagi.
Aku berpaling ke arahmu, kamu pura-pura tak melihatku. Aku menyesal kenapa tadi tak bilang bahwa kau cewekku saja pada Nera. Mungkin dengan begitu, Nera bakal pergi dan nggak ikut nimbrung serta memonopoli pembicaraan kayak begini. Bagaimanapun, janjiku kan nemenin kamu, bukan malah kebetulan ketemu Nera.
“Ehm, aku nggak punya cewek.” Jawabku gugup, ada perasaan tak nyaman.
“Wah, bagus dong!” sahut Nera bersemangat. Dia bahkan lupa belum memesan sesuatu.
“Bagus apanya?” heranku. Aku juga sempat melihat ekspresi kaget di wajahmu.
Nera melihatmu sebentar, kemudian kembali menatap dalam-dalam mataku. Aku berusaha tidak melihatnya, tapi kupikir tak sopan berbicara dengan orang tapi tak melihat matanya. “Sebenarnya tadi aku ngajak kamu ketemuan di sini aku pengen nyatain sesuatu padamu, Dit. Sebenarnya aku suka sama kamu dari dulu waktu kelas tiga, tapi waktu itu kan kamu punya cewek jadi aku pendem aja. Ehm, Radit, kamu mau nggak jadi cowokku?”
DUARR!!! Ya, beginilah rasanya ditembak. Aku jadi bingung sendiri mau menjawab apa.
“Ehm, Dit. Nggak usah dijawab sekarang. Besok, aku telepon ya. Daahh.” Nera pergi begitu saja.
Aku melihatmu, kamu hanya mengedikkan bahu dan menunjukkan ekspresi tak tertarik.

Esok harinya, aku tak melihatmu sama sekali di kampus. Mungkin ini karena aku yang nggak menghabiskan waktu di kampus lama-lama, karena aku tak pernah tiba di kelas lebih awal dari dimulainya kuliah, dan setelah kuliah selesai aku langsung cabut bersama motorku. Pantas saja, hahaha.
Tak satupun pesan darimu masuk di ponselku, kupikir kamu tak ingin lagi berteman denganku. Nera terus saja menanyakan jawaban atas pertanyaannya tempo hari. Aku tak sempat curhat padamu, karena kamu bahkan tak menghampiri atau menghubungiku, kukira kamu sibuk. Aku menerima cinta Nera karena takut menyakiti perasaannya, bukan karena aku mencintainya juga. Pun aku tak membenci Nera, kurasa aku bisa mencintainya seiring berjalannya waktu. Seperti kata pepatah Jawa, ‘Witing tresna jalaran saka kulina.’
Namun malam itu, kamu mengejutkanku dengan pernyataanmu. Kau mengatakan dengan datar kau menyukaiku. Saat kita terjebak hujan di halte depan kampus. Kamu tahu, bagiku sulit sekali mencerna ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa, kupikir kamu tulus ingin menjadi temanku. Aku ingin mengatakan aku lebih nyaman menjadi temanmu, tapi aku takut malah membuat semakin dingin suasana hatimu.
Kamu tidak tahu aku sudah dengan Nera.
Berhari-hari aku meyakinkanmu aku tak bisa denganmu lewat sikap dinginku. Aku tak bermaksud menyakitimu, aku hanya berharap ini akan lebih memudahkanmu memusnahkan perasaan sukamu padaku. Entah, berhasil atau tidak. Kita sudah jarang ngobrol. Kangen itu pasti ada, sebagai teman tentunya. Aku menunggu hujan mempertemukan kita lagi untuk meluruskan semuanya. Kita masih saling beku dalam diam. Ada sesuatu yang ingin kamu ungkapkan lebih banyak padaku. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Kita masih saling bisu dalam senyuman.

Angkie Yudistia


Angkie Yudistia (The Inspiration For Me, Maybe You Too ...)


Berawal di suatu pagi gue baru bangun dari tidur, mau siap-siap mandi tapi nyalain tivi dulu. Lihat tayangan Liputan 6 SCTV kok ada cewek cantik banget ya? Gue kira dia model terkenal, yang gue gak kenal,hahah. Ternyata bukan. Dia penderita tunarungu, Para Pemirsa!!
Angkie Yudistia mulai Tuna Rungu saat berusia 10 tahun dan mulai merasakan beragam tantangan diskriminasi berlapis-lapis dan warna warni kayak kue lapis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Meski Tuna Rungu, Angkie membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi kendala untuk bisa sukses. That’s right! Gue mesti bersyukur dengan apa yang gue punya. Terima kasih, Ya Allah SWT!

Kini, Angkie telah menjadi seorang perempuan mandiri melalui beragam pengalaman yang pernah diraihnya, antara lain berhasil menyelesaikan S2 Marketing Communication di The London School of Public Relations Jakarta, menjadi salah satu finalis Abang None 2008 Jakarta Barat, berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, menjadi Miss Congeniality dari Natur-e, hingga berkarir sebagai Corporate Public Relations. Gue paling seneng liat cewek mandiri, inspirasi banget! Paus akrobatis banget!

Angkie juga aktif membantu Yayasan Tuna Rungu Sehjira bersama dengan para perempuan penyandang disabilitas lainnya. Saat ini, Angkie beserta rekan tengah mendirikan Thisable Enterprise yang peduli terhadap permasalahan sosial dengan menggunakan kemampuan entrepreneurship, untuk melakukan perubahan sosial (social change); meliputi pemberdayaan teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia.

#pitabiru

Sejalan dengan peluncuran buku terbarunya bertajuk “Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas”, Angkie mempelopori sebuah gerakan sosial di jejaring sosial dengan #pitabiru

Apa itu #pitabiru?
#pitabiru merupakan sebuah gerakan sosial (social movement) yang fokus pada kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Keren banget namanya: Pita Biru.

Apa tujuan #pitabiru?
Angkie mau mengajak masyarakat untuk turut berempati dan membantu para penyandang disabilitas.

Selama perjalanan hidupnya hingga kini, wanita berusia 24 tahun itu tak bisa menghindar dari perlakuan diskriminatif di sekitarnya.
Telinga kanan Angkie mampu mendengar suara 70 desibel, sedangkan yang kiri 98 desibel. Sementara, rata-rata percakapan manusia berada di 40 desibel. Sebenarnya gue nggak ngerti masalah desibel-desibel ini, gue juga gak tahu berapa desibel pendengaran orang normal. Yang gue tahu suhu tubuh orang normal adalah 36,5 sampai 37,5 per-aksila.
Selepas sekolah menengah atas, dokter menyarankan Angkie untuk kuliah di bidang sains yang tidak menuntut komunikasi verbal. Ternyata, Angkie memiliki tekad lain.
Tak sia-sia memang. Beberapa kali ia dikirim mewakili kaum tuna rungu Indonesia untuk presentasi di dunia internasional. Kini, Angkie telah meraih master ilmu komunikasi. Mobilitas yang tinggi pun dijalaninya secara mandiri.
Angkie tak ingin keberhasilannya menembus keterbatasan yang dimilikinya hanya dinikmati sendiri. Ia pun mendirikan sebuah perusahaan konsultan komunikasi yang memperjuangkan isu kaum difabel. Keprihatinan Angkie muncul karena tak banyak kaum difabel diterima di dunia kerja formal.
Nah, gerakan pita biru adalah salah satu upaya Angkie mendapatkan perhatian bagi kaum difabel. Belum lama ini, dia meluncurkan buku berisi pengalamannya. Ia pun menjual merchandise yang hasil penjualannya diperuntukkan bagi alat bantu kaum difabel. Terutama, agar mereka tidak lagi terkungkung oleh keterbatasan.(ANS).
Gue terkesima dan langsung gue cari facebooknya setelah liat tayangannya. Hebat, friend request gue diconfirm. Yeah!
Menginspirasi gue untuk terus mensyukuri hidup. Gue pikir, gue butuh setiap hari setiap waktu setiap saat bertemu orang-orang yang memotivasi dan menginspirasi macam Mbak Angkie ini. Heh hah!